Warga Mamasa Makin Menderita
MAMASA, BKM -- Kalau ada kabupaten di republik ini yang warganya menderita, maka salah satunya adalah warga Kabupaten Mamasa, Provinsi Sulbar. Pasalnya, sejak Kabupaten Mamasa berdiri berdasarkan UU No.22 tahun 2002, sampai saat ini warga Mamasa belum menikmati pembangunan. Utamanya pembangunan infrastruktur jalan dan penerangan.
Jalan nasional yang menghubungkan Polewali ke Mamasa sekitar 95 kilometer, kondisinya makin sangat memprihatinkan. Jalan poros ini hampir dikata tidak dapat lagi dilalui kendaraan roda empat. Hanya karena tidak adanya jalan alternatif lain, sehingga warga terpaksa harus rela melalui jalan poros ini.
Fredy, salah seorang pengusaha asal Mamasa yang ditemui BKM di Polewali, beberapa hari lalu, mengatakan, penderitaan warga Mamasa makin terasa karena mereka juga tidak menikmati penerangan listrik yang memadai. Padahal, Kabupaten Mamasa adalah salah satu kabupaten penyuplai air dari Sungai Mamasa sebagai pembangkit listrik yang menerangi hampir seluruh wilayah di Sulsel, Sultra, dan Sulbar. ''Tapi kenapa Mamasa masih gelap. Seharusnya Kabupaten Mamasa mendapat prioritas tentang penerangan listrik. Karena Mamasa sumber air yang dipakai PLTA Bakaru di Kabupaten Pinrang, Sulsel, berasal dari air Sungai Mamasa,'' katanya dengan nada tanya.
Sudah sepekan ini aliran listrik di Kabupaten Mamasa padam. Sehingga kota Mamasa tak ubahnya kembali pada tahun 1970-an. Pemadaman listrik tiap hari di Kabupaten Mamasa, membuat warga Mamasa yang berdomisili di kota Mamasa menggunakan genset.
''Bayangkan, ada sekitar 40 persen warga kota Mamasa menggunakan genset untuk penerangan. Bukan itu saja, penderitaan warga Mamasa makin bertambah karena hujan yang sepanjang hari mengguyur kota Mamasa. Akibatnya, jalan beton dalam kota Mamasa dipenuhi lumpur dan pasir yang dibawa air hujan,'' ujarnya.
Ironisnya, hingga kini pihak Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulbar dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mamasa terkesan tidak ambi pusing. Tidak ada langkah konkret untuk mengatasi kerusakan parah pada jalan poros Polewali ke Mamasa. Seluruh elemen di Kabupaten Mamasa, mulai dari tokoh masyarakat, tokoh agama, LSM, dan pemuda, sangat menyayangkan tidak tanggapnya Gubernur Sulbar, Anwar Adnan Saleh selaku putra daerah Mamasa untuk segera melakukan perbaikan terhadap jalan poros ini khususnya, dan sejumlah infrastruktur lain pada umumnya.
''Sejak mau mencalonkan diri sebagai Gubernur Sulbar pada tahun 2004 lalu, Anwar Adnan Saleh telah beberapa kali berjanji untuk segera memperbaiki dan mengaspal jalan poros Polewali ke Mamasa. Tapi hingga kini tidak juga ada realisasinya. Terus terang, kami selaku tokoh masyarakat Mamasa sangat kecewa dengan sikap Bupati Mamasa dan utamanya kepada Gubenur Sulbar, Anwar Adnan Saleh selaku putra daerah Mamasa yang tidak juga merealisasikan janji yang sudah diucapkan sekitar hampir sepuluh tahun lalu,'' ujar salah seorang tokoh masyarakat Mamasa.
sumber : beritakota
diposkan oleh cici fakhrunnisa
Jalan nasional yang menghubungkan Polewali ke Mamasa sekitar 95 kilometer, kondisinya makin sangat memprihatinkan. Jalan poros ini hampir dikata tidak dapat lagi dilalui kendaraan roda empat. Hanya karena tidak adanya jalan alternatif lain, sehingga warga terpaksa harus rela melalui jalan poros ini.
Fredy, salah seorang pengusaha asal Mamasa yang ditemui BKM di Polewali, beberapa hari lalu, mengatakan, penderitaan warga Mamasa makin terasa karena mereka juga tidak menikmati penerangan listrik yang memadai. Padahal, Kabupaten Mamasa adalah salah satu kabupaten penyuplai air dari Sungai Mamasa sebagai pembangkit listrik yang menerangi hampir seluruh wilayah di Sulsel, Sultra, dan Sulbar. ''Tapi kenapa Mamasa masih gelap. Seharusnya Kabupaten Mamasa mendapat prioritas tentang penerangan listrik. Karena Mamasa sumber air yang dipakai PLTA Bakaru di Kabupaten Pinrang, Sulsel, berasal dari air Sungai Mamasa,'' katanya dengan nada tanya.
Sudah sepekan ini aliran listrik di Kabupaten Mamasa padam. Sehingga kota Mamasa tak ubahnya kembali pada tahun 1970-an. Pemadaman listrik tiap hari di Kabupaten Mamasa, membuat warga Mamasa yang berdomisili di kota Mamasa menggunakan genset.
''Bayangkan, ada sekitar 40 persen warga kota Mamasa menggunakan genset untuk penerangan. Bukan itu saja, penderitaan warga Mamasa makin bertambah karena hujan yang sepanjang hari mengguyur kota Mamasa. Akibatnya, jalan beton dalam kota Mamasa dipenuhi lumpur dan pasir yang dibawa air hujan,'' ujarnya.
Ironisnya, hingga kini pihak Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulbar dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mamasa terkesan tidak ambi pusing. Tidak ada langkah konkret untuk mengatasi kerusakan parah pada jalan poros Polewali ke Mamasa. Seluruh elemen di Kabupaten Mamasa, mulai dari tokoh masyarakat, tokoh agama, LSM, dan pemuda, sangat menyayangkan tidak tanggapnya Gubernur Sulbar, Anwar Adnan Saleh selaku putra daerah Mamasa untuk segera melakukan perbaikan terhadap jalan poros ini khususnya, dan sejumlah infrastruktur lain pada umumnya.
''Sejak mau mencalonkan diri sebagai Gubernur Sulbar pada tahun 2004 lalu, Anwar Adnan Saleh telah beberapa kali berjanji untuk segera memperbaiki dan mengaspal jalan poros Polewali ke Mamasa. Tapi hingga kini tidak juga ada realisasinya. Terus terang, kami selaku tokoh masyarakat Mamasa sangat kecewa dengan sikap Bupati Mamasa dan utamanya kepada Gubenur Sulbar, Anwar Adnan Saleh selaku putra daerah Mamasa yang tidak juga merealisasikan janji yang sudah diucapkan sekitar hampir sepuluh tahun lalu,'' ujar salah seorang tokoh masyarakat Mamasa.
sumber : beritakota
diposkan oleh cici fakhrunnisa
0 comments: